IPA
PUNYA CERITA
(Karya : Azmi
Hadi Mubarok)
IPA,
itu adalah salah satu pelajaran disekolah dimana mata pelajaran itu berisi
pelajaran mengenai alam , namun tidak harus ilmu alam. Pelajaran ini bercabang-cabang
dan akan dipecah saat masa SMA seperti biologi untuk pelajaran mengenai makhluk
hidup, Kimia ilmu untuk zat yang ada di semesta ini dan Fisika yang seperti
matematika hanya saja berhubungan dengan alam. Semenjak aku belajar sekolah
sampai saat ini, ternyata aku condong ke pelajaran itu walaupun bakatku ada di
berbau seni. Karena hal ini, aku pernah punya kisah dimana guru mata pelajaran
IPA memilihku untuk jadi peserta olimpiade sains
saat kelas 2 SMP yang punya kisah.
“Aku benci Hari Kamis dan Jum’at.
Andaikan saja hari itu hari libur saja” kata temanku Ocit. “ Hari itu tidak
pernah cerah di pagi harinya” jawab Fatur temanku juga. Bukan kedua temanku
saja yang sering mengeluh seperti itu, hampir sebagian besar kelasku satu hati
dengan keluh kesah itu. Waktu itu atau saat masa di kelas 8A dengan alasan
mereka karena waktu pelajaran jam pertama dan kedua diisi dengan IPA yang
diajarkan oleh guru mata pelajaran itu bernama Bu Wati, salah satu guru yang
disegani oleh seluruh siswa sekolahku yaitu SMPN 169 Jakarta. Kata mereka, Bu Wati
terbilang menyeramkan karena galak bahkan alumni yang tidak diajarnya pun
sependapat.
“Sudah selesai? Cepat sekali” kata
Dodi, temanku yang bersama-sama baru selesai pembiasaan pembacaan Al Qur’an
bersama pada suatu Hari Kamis “Oh iya, hari ini pertama kalinya kita akan
bertemu pelajaran IPA. Oh tidak! pengajarnya kan Bu Wati” kata Ilhan temanku
juga. Waktu itu saat tahun pelajaran baru 2016/2017. “Memangnya ada apa ?”
kataku yang tidak tahu sama sekali mengapa mereka berdua terkejut. “Itu kan
guru killer” kata Ilhan . Ternyata
yang dimaksud kata killer itu artinya
galak. “Hmm, lihat saja nanti” kata Dodi
dengan nada cemas. “Kalian jelaskan dong !” kataku sambil mengejar mereka
terburu-buru ke kelas.
Kelas saat jam pelajaran dimulai atau
ketika Bu Wati belum masuk bagaikan keramaian pasar pada umumnya. Mereka
sebagian belum tahu bahwa mereka harusnya duduk diam rapih sampai ada suara
sepatu hak yang sama seperti suara detak jantung. Perlahan ia masuk melihat isi
kelas 8A yang sedang bercanda dengan euforia. Bu Wati dari kejauhan melihat
dengan tatapan kosong sampai mereka rapih. Lalu mereka cepat-cepat duduk dalam
kesunyian dan Bu Wati pun masuk. Tatapan mereka pada murid-murid sangat
menyeramkan dengan kata-kata yang sangat menakutkan saat ia hanya menyampaikan
awal pertemuan. Kelas saat itu seperti kapal karam sehingga dengan nada omelan
kita diharuskan piket terlebih dahulu. Suasana saat itu juga termasuk mencekam.
“Assalamu’alaikum” kata temanku Riza
dan Fitria dengan kompak telat memasuki kelas. Bu Wati pun memandangnya tajam
sembari mengintrospeksi mereka apa arti disiplin dalam suasana sedang memarahi
selama lebih 40 menit walaupun mereka hanya telat beberapa menit. Yang lain
mendengarkan omelan itu dengan suasana mencekam. Setelah itu arahan awal
dilanjutkan sampai Bu Wati membuat 2 PR yang terbilang menantang seperti
persentasi dan 2 soal yang harus ada pembahasan. Kata kakak kelas yang dulu
pernah diajarkan oleh Bu Wati, jangan sesekali berurusan dengannya apalagi
terkait masalah tidak buat PR.
“Astagfirullah, haruskah seperti ini
lagi?” kata Krisna setiap ada bab baru. Alasannya kita disuruh merangkum bab
itu wajib lengkap . Walaupun aku terbilang terlengkap tetap dapat nilai kecil dengan
alasan tidak rapih . Jika rangkuman itu tidak diindahkan bisa berurusan dengan
guru bimbingan dan konseling. Ini yang membuat semua segan padanya. Selain itu,
hal yang paling menjengkelkan lagi yaitu saat ulangan. Betapa sulitnya soal
soal yang sering diberikan dan sering ada kejadian soal yang benar disalahkan
itulah yang menyebabkan ulangan IPA sering tidak sempurna bahkan dominan
remedial. Satu lagi yang menjengkelkan yaitu saat remedial dimana kita
diharuskan membuat pembahasan pada soal ulangan itu, jika tidak mengumpulkan
juga berurusan dengan guru bimbingan dan konseling. “Suara kamu tidak
keras!tidak lengkap!”kata Bu Wati yang selalu terucap waktu persentasi yang
menegangkan termasuk hal menjengkelkan juga dimana kita harus seperti guru
menerangkan materi masing-masing yang dipilih Bu Wati. Tangan dan tubuh selalu
bercucuran air asin ketika didepan kelas dan ditatapi oleh Bu Wati saat
mempersentasikan materi. Jika buruk tentunya nilai semakin buruk.
Setiap ulangan, Bu Wati sering
mengurutkan nama dari yang nilai tertinggi dan yang sering disebut namanya di
awal Saddam, Dodi, dan aku. Kita bertiga terbilang hampir sama sekali tidak
remedial. Karena terlalu sering ,kita bertiga lebih dikenal bahkan aku dan
Saddam pernah dipanggil Bu Wati di ruang guru. Biasanya yang sering dipanggil
itu anak yang bermasalah sehingga kita berdua merasa takut bagai buronan. “Kamu
harus ikut menjadi peserta olimpiade IPA nanti” betapa terkejutnya kita bisa
ikut peserta itu dan peserta dari kelas 7 ada Zikri dan Nada sedangkan dari
kelas 9 ada Ka Lakuning dan Ka Aanisah. Lomba tersebut akan diadakan di sekolah
ini pada Hari Sabtu, 1 minggu sebelum ulang tahunku di 2016.
“Apakah kau ingat materi tentang
perbedaan parental pewarisan sifat?” kata Ka Lakuning. “ Bukan, yang aku cemas
kalau teori Darwin dan Lamarck dalam perbedaan pendapatnya” kata Ka Aanisah.
“Apakah saat pemuaian volumenya sama?” kata Zikri. “ Bukannya volume selalu
tetap ya? Kalor jenis apakah harus dihafalkan?” kata Nada. Mereka dengan asik
berdiskusi pelajaran dan aku pun dengan Saddam ingin seperti itu misalnya
diskusi tentang Hormon tumbuhan, materiil tulang, enzim pencernaan, hemoglobin
pernafasan, alur peredaran darah, dikotil/monokotil, bahan kimia makanan dan
perabotan, zat adiktif. “Apakah bilubirin mewarnai feses?” salah satu
pertanyaanku kepada Saddam,tetapi ia tertawa saja karena tidak suka hafalan.
Yang biasanya kami malas-malasan di hari libur
digantikan dengan misi ini. Banyak sekolah swasta yang ikut peserta dan tidak
terkecuali sekolah negeri di kawasan Kalideres, kecamatan daerah SMPku. Dalam
mengerjakan soal , ternyata wajib memakai pensil 2B sehingga aku harus meminjam
pensil dari peserta sekolah lain. Tentu jelas aku merasa risih sedikit karena
tidak siap-siap. Setelah aku baca soalnya, ternyata lebih mudah dari pada soal
ulangan Bu Wati sehingga aku dengan leluasa mengerjakan soal itu dan ternyata
itu benar-benar nyata bahwa leluasa itu berbuah juara sehingga aku berlanjut
sampai tingkat walikota sedangkan temanku yang lain terhenti. Ini pun membuat
bangga guru IPAku dan ini adalah aku anggap termasuk hadiah tahunku.
Tantangan selanjutnya aku harus
olimpiade lanjutan di suatu SMPN 178 Jakarta. Tempatnya jauh dan ternyata
sekolah itu adalah salah satu SMP terbaik dan unggulan di Jakarta Barat. Disana
persaingannya sangat ketat sekali dan aku saja tidak percaya pada diriku akan
menang. Disana soal tes nya lebih sulit dari yang sebelumnya dan pesertanya
lebih sering banyak dari sekolah swasta. Aku katakan sulit karena aku hanya
membaca materi kelas 8 sedangkan aslinya materinya merambat ke kelas 7.
“Selesai” satu per satu peserta berkata seperti itu yang membuatku cemas apakah
aku bisa lolos yang sebenarnya pikiran itu bertolak belakang dengan fakta.
Ternyata aku termasuk 3 besar dari peserta-peserta itu dan artinya aku lolos ke
tingkat provinsi.
“Selamat yaa!” kata warga sekolah
setiap aku melewati mereka. Disana katanya akan berbasis komputer sehingga
waktu simulasi UNBK bersamaan dengan pentas seni sekolah, aku diikutsertakan
dalam simulasi agar bisa latihan.Kala itu aku belajarnya diperdalam. Begitu
sampai di perlombaan selanjutnya ternyata perwakilan Jakarta Barat semua salah
jadwal. Kami pun kecewa karena sudah jauh pergi sampai ke SMPN 58 Setiabudi,
Jakarta Selatan untuk berkompetisi. Saat itu keluargaku ikut mendampingiku
sehingga ikut kecewa. Untuk merendam kekecewaan, kami berencana pergi ke Dufan
untuk berekreasi.
Di Dufan kami berniat untuk
menyegarkan pikiran dari kekecewaan. Saat itu tasku berisi banyak buku sehingga
menggangu kenyamanan saat berekreasi. Banyak wahana yang ada di sana. Kakakku,
Alwi selalu mengajakku ke wahana yang menantang seperti Kora-kora, Tornado,
Hysteria, Halilintar dan banyak wahana yang menyeramkan. Disana kami tidak
memperhatikan kondisi ketahanan tubuh sehingga setelah itu aku menderita diare
seminggu. Ini pun menghambat kegiatanku belajar IPA untuk kompetisi
selanjutnya.
“Nanti kompetisinya bukan tertulis
lagi, akan diganti dengan praktikum” kata salah satu guru IPAku. Ini membuatku
cemas karena aku tidak ada pengalaman dalam praktikum IPA ,tetapi guru IPAku
membantuku dalam permasalahan ini. Untuk pertama kalinya banyak praktek yang
diajarkan olehnya seperti pertama kalinya menggunakan mikroskop, tentang
kimia-kimia dan lain-lain. Reaksi guruku itu bangga karena aku bisa sehingga
kata mereka aku condong ke pelajaran IPA.
“Taksi sudah datang” kata ibuku pada
minggu selanjutnya untuk pergi ke kompetisi itu bersama keluarga lagi. Selama
perjalanan aku pergunakan untuk baca-baca lagi tapi itu membuatku pusing dan
mengantuk. Saat sampai disana ternyata sebagian besar sekolah swasta semua
bahkan ada tim IPA yang memang dulu juara dalam olimpiade IPA .Ini tantangan
besar. Saat tes dimulai disiapkan 21 praktikum yang aku harus bisa kerjakan.
Sebagian besar praktek biologi sehingga aku lumayan bisa .
Waktu Hari Seninnya, aku dipanggil
di depan sekolah. Aku berpikir ada apa ternyata terkait perlombaan IPA yang
sampai tingkat provinsi dan hasil
kompetisi itu aku meraih 20 besar dari 60 peserta sehingga ini membuat
sekolahku bangga karena termasuk berhasil sampai tingkat provinsi. Jarang
sekali ada perwakilan sekolahku dalam perlombaan akademil yang bisa sampai
tingkat provinsi terkecuali dalam bidang nonakademik. Guru IPAku memotivasi
siswa yang lain agar ada penerus yang berprestasi terutama dalam bidang
akademik .
“Padahal kan IPA itu susah, kok kamu
bisa?” kata Ilhan. “Belum lagi banyak hafalannya” Kata Dodi. Aku berpendapat
“Kata seseorang ada yang pernah berkata bahwa yang memang bidangnya akan memang
bagus, tapi kalau memang minat juga bisa kok!”
“Azmi, selamat kamu! Menjadi salah
satu kebanggaan sekolah” kata Bu Wati nada memuji. Untuk pertama kalinya ia
memuji kepadaku dan ini membuat kelas-kelas lain berandai-andai dipuji. Setiap
pelajaran Bu Wati berlangsung ternyata ia baik padaku kata mereka ia galak tapi
menurut pendapatku itu salah. Ia itu karakternya tegas sehingga terlihat
berwibawa. Mereka yang menganggapnya seperti itu belum pernah merasakan sekolah
kemiliteran. Kalau sekolah kemiliteran pastinya guru-gurunya tegas sama seperti
Bu Wati. Walaupun begitu , ia tetap tegas padaku, bukan berarti benci tapi
supaya disiplin dalam ilmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar