Rabu, 31 Januari 2018

Cerpen pengalaman pribadi

IPA PUNYA CERITA
(Karya : Azmi Hadi Mubarok)
Hasil gambar untuk science
IPA, itu adalah salah satu pelajaran disekolah dimana mata pelajaran itu berisi pelajaran mengenai alam , namun tidak harus ilmu alam. Pelajaran ini bercabang-cabang dan akan dipecah saat masa SMA seperti biologi untuk pelajaran mengenai makhluk hidup, Kimia ilmu untuk zat yang ada di semesta ini dan Fisika yang seperti matematika hanya saja berhubungan dengan alam. Semenjak aku belajar sekolah sampai saat ini, ternyata aku condong ke pelajaran itu walaupun bakatku ada di berbau seni. Karena hal ini, aku pernah punya kisah dimana guru mata pelajaran IPA memilihku untuk jadi peserta olimpiade sains saat kelas 2 SMP yang punya kisah.
            “Aku benci Hari Kamis dan Jum’at. Andaikan saja hari itu hari libur saja” kata temanku Ocit. “ Hari itu tidak pernah cerah di pagi harinya” jawab Fatur temanku juga. Bukan kedua temanku saja yang sering mengeluh seperti itu, hampir sebagian besar kelasku satu hati dengan keluh kesah itu. Waktu itu atau saat masa di kelas 8A dengan alasan mereka karena waktu pelajaran jam pertama dan kedua diisi dengan IPA yang diajarkan oleh guru mata pelajaran itu bernama Bu Wati, salah satu guru yang disegani oleh seluruh siswa sekolahku yaitu SMPN 169 Jakarta. Kata mereka, Bu Wati terbilang menyeramkan karena galak bahkan alumni yang tidak diajarnya pun sependapat.
            “Sudah selesai? Cepat sekali” kata Dodi, temanku yang bersama-sama baru selesai pembiasaan pembacaan Al Qur’an bersama pada suatu Hari Kamis “Oh iya, hari ini pertama kalinya kita akan bertemu pelajaran IPA. Oh tidak! pengajarnya kan Bu Wati” kata Ilhan temanku juga. Waktu itu saat tahun pelajaran baru 2016/2017. “Memangnya ada apa ?” kataku yang tidak tahu sama sekali mengapa mereka berdua terkejut. “Itu kan guru killer” kata Ilhan . Ternyata yang dimaksud kata killer itu artinya galak. “Hmm, lihat saja nanti”  kata Dodi dengan nada cemas. “Kalian jelaskan dong !” kataku sambil mengejar mereka terburu-buru ke kelas.
            Kelas saat jam pelajaran dimulai atau ketika Bu Wati belum masuk bagaikan keramaian pasar pada umumnya. Mereka sebagian belum tahu bahwa mereka harusnya duduk diam rapih sampai ada suara sepatu hak yang sama seperti suara detak jantung. Perlahan ia masuk melihat isi kelas 8A yang sedang bercanda dengan euforia. Bu Wati dari kejauhan melihat dengan tatapan kosong sampai mereka rapih. Lalu mereka cepat-cepat duduk dalam kesunyian dan Bu Wati pun masuk. Tatapan mereka pada murid-murid sangat menyeramkan dengan kata-kata yang sangat menakutkan saat ia hanya menyampaikan awal pertemuan. Kelas saat itu seperti kapal karam sehingga dengan nada omelan kita diharuskan piket terlebih dahulu. Suasana saat itu juga termasuk mencekam.
            “Assalamu’alaikum” kata temanku Riza dan Fitria dengan kompak telat memasuki kelas. Bu Wati pun memandangnya tajam sembari mengintrospeksi mereka apa arti disiplin dalam suasana sedang memarahi selama lebih 40 menit walaupun mereka hanya telat beberapa menit. Yang lain mendengarkan omelan itu dengan suasana mencekam. Setelah itu arahan awal dilanjutkan sampai Bu Wati membuat 2 PR yang terbilang menantang seperti persentasi dan 2 soal yang harus ada pembahasan. Kata kakak kelas yang dulu pernah diajarkan oleh Bu Wati, jangan sesekali berurusan dengannya apalagi terkait masalah tidak buat PR.
            “Astagfirullah, haruskah seperti ini lagi?” kata Krisna setiap ada bab baru. Alasannya kita disuruh merangkum bab itu wajib lengkap . Walaupun aku terbilang terlengkap tetap dapat nilai kecil dengan alasan tidak rapih . Jika rangkuman itu tidak diindahkan bisa berurusan dengan guru bimbingan dan konseling. Ini yang membuat semua segan padanya. Selain itu, hal yang paling menjengkelkan lagi yaitu saat ulangan. Betapa sulitnya soal soal yang sering diberikan dan sering ada kejadian soal yang benar disalahkan itulah yang menyebabkan ulangan IPA sering tidak sempurna bahkan dominan remedial. Satu lagi yang menjengkelkan yaitu saat remedial dimana kita diharuskan membuat pembahasan pada soal ulangan itu, jika tidak mengumpulkan juga berurusan dengan guru bimbingan dan konseling. “Suara kamu tidak keras!tidak lengkap!”kata Bu Wati yang selalu terucap waktu persentasi yang menegangkan termasuk hal menjengkelkan juga dimana kita harus seperti guru menerangkan materi masing-masing yang dipilih Bu Wati. Tangan dan tubuh selalu bercucuran air asin ketika didepan kelas dan ditatapi oleh Bu Wati saat mempersentasikan materi. Jika buruk tentunya nilai semakin buruk.
            Setiap ulangan, Bu Wati sering mengurutkan nama dari yang nilai tertinggi dan yang sering disebut namanya di awal Saddam, Dodi, dan aku. Kita bertiga terbilang hampir sama sekali tidak remedial. Karena terlalu sering ,kita bertiga lebih dikenal bahkan aku dan Saddam pernah dipanggil Bu Wati di ruang guru. Biasanya yang sering dipanggil itu anak yang bermasalah sehingga kita berdua merasa takut bagai buronan. “Kamu harus ikut menjadi peserta olimpiade IPA nanti” betapa terkejutnya kita bisa ikut peserta itu dan peserta dari kelas 7 ada Zikri dan Nada sedangkan dari kelas 9 ada Ka Lakuning dan Ka Aanisah. Lomba tersebut akan diadakan di sekolah ini pada Hari Sabtu, 1 minggu sebelum ulang tahunku di 2016.
            “Apakah kau ingat materi tentang perbedaan parental pewarisan sifat?” kata Ka Lakuning. “ Bukan, yang aku cemas kalau teori Darwin dan Lamarck dalam perbedaan pendapatnya” kata Ka Aanisah. “Apakah saat pemuaian volumenya sama?” kata Zikri. “ Bukannya volume selalu tetap ya? Kalor jenis apakah harus dihafalkan?” kata Nada. Mereka dengan asik berdiskusi pelajaran dan aku pun dengan Saddam ingin seperti itu misalnya diskusi tentang Hormon tumbuhan, materiil tulang, enzim pencernaan, hemoglobin pernafasan, alur peredaran darah, dikotil/monokotil, bahan kimia makanan dan perabotan, zat adiktif. “Apakah bilubirin mewarnai feses?” salah satu pertanyaanku kepada Saddam,tetapi ia tertawa saja karena tidak suka hafalan.
             Yang biasanya kami malas-malasan di hari libur digantikan dengan misi ini. Banyak sekolah swasta yang ikut peserta dan tidak terkecuali sekolah negeri di kawasan Kalideres, kecamatan daerah SMPku. Dalam mengerjakan soal , ternyata wajib memakai pensil 2B sehingga aku harus meminjam pensil dari peserta sekolah lain. Tentu jelas aku merasa risih sedikit karena tidak siap-siap. Setelah aku baca soalnya, ternyata lebih mudah dari pada soal ulangan Bu Wati sehingga aku dengan leluasa mengerjakan soal itu dan ternyata itu benar-benar nyata bahwa leluasa itu berbuah juara sehingga aku berlanjut sampai tingkat walikota sedangkan temanku yang lain terhenti. Ini pun membuat bangga guru IPAku dan ini adalah aku anggap termasuk hadiah tahunku.
            Tantangan selanjutnya aku harus olimpiade lanjutan di suatu SMPN 178 Jakarta. Tempatnya jauh dan ternyata sekolah itu adalah salah satu SMP terbaik dan unggulan di Jakarta Barat. Disana persaingannya sangat ketat sekali dan aku saja tidak percaya pada diriku akan menang. Disana soal tes nya lebih sulit dari yang sebelumnya dan pesertanya lebih sering banyak dari sekolah swasta. Aku katakan sulit karena aku hanya membaca materi kelas 8 sedangkan aslinya materinya merambat ke kelas 7. “Selesai” satu per satu peserta berkata seperti itu yang membuatku cemas apakah aku bisa lolos yang sebenarnya pikiran itu bertolak belakang dengan fakta. Ternyata aku termasuk 3 besar dari peserta-peserta itu dan artinya aku lolos ke tingkat provinsi.
            “Selamat yaa!” kata warga sekolah setiap aku melewati mereka. Disana katanya akan berbasis komputer sehingga waktu simulasi UNBK bersamaan dengan pentas seni sekolah, aku diikutsertakan dalam simulasi agar bisa latihan.Kala itu aku belajarnya diperdalam. Begitu sampai di perlombaan selanjutnya ternyata perwakilan Jakarta Barat semua salah jadwal. Kami pun kecewa karena sudah jauh pergi sampai ke SMPN 58 Setiabudi, Jakarta Selatan untuk berkompetisi. Saat itu keluargaku ikut mendampingiku sehingga ikut kecewa. Untuk merendam kekecewaan, kami berencana pergi ke Dufan untuk berekreasi.
            Di Dufan kami berniat untuk menyegarkan pikiran dari kekecewaan. Saat itu tasku berisi banyak buku sehingga menggangu kenyamanan saat berekreasi. Banyak wahana yang ada di sana. Kakakku, Alwi selalu mengajakku ke wahana yang menantang seperti Kora-kora, Tornado, Hysteria, Halilintar dan banyak wahana yang menyeramkan. Disana kami tidak memperhatikan kondisi ketahanan tubuh sehingga setelah itu aku menderita diare seminggu. Ini pun menghambat kegiatanku belajar IPA untuk kompetisi selanjutnya.
            “Nanti kompetisinya bukan tertulis lagi, akan diganti dengan praktikum” kata salah satu guru IPAku. Ini membuatku cemas karena aku tidak ada pengalaman dalam praktikum IPA ,tetapi guru IPAku membantuku dalam permasalahan ini. Untuk pertama kalinya banyak praktek yang diajarkan olehnya seperti pertama kalinya menggunakan mikroskop, tentang kimia-kimia dan lain-lain. Reaksi guruku itu bangga karena aku bisa sehingga kata mereka aku condong ke pelajaran IPA.
            “Taksi sudah datang” kata ibuku pada minggu selanjutnya untuk pergi ke kompetisi itu bersama keluarga lagi. Selama perjalanan aku pergunakan untuk baca-baca lagi tapi itu membuatku pusing dan mengantuk. Saat sampai disana ternyata sebagian besar sekolah swasta semua bahkan ada tim IPA yang memang dulu juara dalam olimpiade IPA .Ini tantangan besar. Saat tes dimulai disiapkan 21 praktikum yang aku harus bisa kerjakan. Sebagian besar praktek biologi sehingga aku lumayan bisa .
            Waktu Hari Seninnya, aku dipanggil di depan sekolah. Aku berpikir ada apa ternyata terkait perlombaan IPA yang sampai tingkat provinsi  dan hasil kompetisi itu aku meraih 20 besar dari 60 peserta sehingga ini membuat sekolahku bangga karena termasuk berhasil sampai tingkat provinsi. Jarang sekali ada perwakilan sekolahku dalam perlombaan akademil yang bisa sampai tingkat provinsi terkecuali dalam bidang nonakademik. Guru IPAku memotivasi siswa yang lain agar ada penerus yang berprestasi terutama dalam bidang akademik .
            “Padahal kan IPA itu susah, kok kamu bisa?” kata Ilhan. “Belum lagi banyak hafalannya” Kata Dodi. Aku berpendapat “Kata seseorang ada yang pernah berkata bahwa yang memang bidangnya akan memang bagus, tapi kalau memang minat juga bisa kok!”

            “Azmi, selamat kamu! Menjadi salah satu kebanggaan sekolah” kata Bu Wati nada memuji. Untuk pertama kalinya ia memuji kepadaku dan ini membuat kelas-kelas lain berandai-andai dipuji. Setiap pelajaran Bu Wati berlangsung ternyata ia baik padaku kata mereka ia galak tapi menurut pendapatku itu salah. Ia itu karakternya tegas sehingga terlihat berwibawa. Mereka yang menganggapnya seperti itu belum pernah merasakan sekolah kemiliteran. Kalau sekolah kemiliteran pastinya guru-gurunya tegas sama seperti Bu Wati. Walaupun begitu , ia tetap tegas padaku, bukan berarti benci tapi supaya disiplin dalam ilmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar