NOVEL SASTRA (5)
1.
Ali Yang
Saleh...................... 3
2.
Mengukir Masa Depan ... 5
3.
Hujan
Kepagian.................. 7
4.
Keluarga Pecinta
Lingkungan.......................... 9
5.
Dibawah
Lindungan Ka’bah .................................................. 11
Jakarta, 28 Maret 2017
Pengetik
Azmi Hadi Mubarok
NOVEL SASTRA
1.
a)
Judul :
Ali Yang Sholeh.
b)
Nama Pengarang :
Dudun Parwanto.
c)
Jumlah Halaman :
86 Halaman.
d)
Penerbit : Puslitbang Pendidikan Agama
dan Keagamaan.
e)
Tokoh
·
Protagonis :
-Ali. (Tokoh utama
yang berkarakter anak sholeh)
-Amir. (Anak
orang kaya yang baik&suka bersahabat)
-Pak Rahmat. (Paman yang menjaga amanah&Pekerja
keras)
·
Antagonis :
-Bibi Laela. (Ibu tiri yang pilih
kasih)
-Jaim. (Anak manja, pemalas,
berkarakter buruk)
-Rosidah. (Ibu Amir yang bersifat rasis pada
Ali)
·
Tritagonis : -Pak Toha. (Guru yang gemar menolong Ali)
-Fatimah. (Teman Ali yang peduli dengan Ali)
-Jayus. (Sahabat Jaim yang berkarakter
seperti Jaim)
f)
Latar
·
Tempat :
-Rumah Pak Rahmat. -Rumah Jaim. -Jalan Raya.
-SD Ketapang. -Masjid -Lapangan Bola.
- Rumah Pak
Toha. -Rumah Sakit.
·
Waktu :
-Esok hari. -Hari libur. -Suatu malam.
-Minggu ini. -Saat pulang sekolah.
-Sore hari. -Hari ini.
·
Suasana : -Menegangkan. -Euforia.
-Kekecewaan. -Mengharukan.
-Mencemaskan.
g)
Alur :
Maju, karena cerita nya dimulai dari perkenalan – konflik - Klimaks
– Peyelesaian.
h)
Tema :
Persahabatan.
i)
Sudut Pandang Pengarang : Pengarang adalah pengamat.
j)
Amanat / pesan :
-Sayangilah anak yatim piatu
-Perbuatan baik kepada sesama sama saja
dengan berbuat
baik pada diri sendiri
-Selalu sabar dalam menghadapi cobaan
-Persahabatan tidak memandang status
-Kejujuran adalah yang utama
k)
Tokoh yang
·
Disukai :-Ali,
karena ia sholeh, mandiri, dan pintar.
-Pak Toha,
karena ia bijaksana.
·
Tidak disukai :-Rosidah
& Bibi Laela, Karena sifatnya pilih kasih.
-Jaim,
Karena manjanya keterlaluan.
l)
Jika jadi tokoh
·
Disukai :-Ali
:Saya akan menjadi anak yang gigih karena di cerita, Ali sangat sabar dan tangguh.
·
Tidak disukai :-Bibi
Laela: Saya tidak akan pilih kasih karena Jaim terlalu dimanja tidak seperti Ali.
m)
Sinopsis :
Sebuah cerita dimana Ali adalah seorang
anak yatim piatu yang diadopsi keluarga sangat sederhana oleh Paman Rahmat dan
Bibi Laela serta Jaim saudara tirinya. Ali berkarakter Sholeh dan Mandiri
sedangkan Jaim anak berkarakter buruk seperti malas dan manja seperti peristiwa
saat gelas cendol dipecahkan, Jaim memfitnah Ali dan saat kehilangan duit
tabungan, Ali saja yang dihukum karena keluarganya bersikap pilih kasih.
Di Masjid, Ali menemukan sebuah tas yang
ia sendiri tidak ingin tas itu terbuang. Saat diketahui alamatnya, itu adalah
milik Amir yang tinggal di rumah mewah. Amir sangat senang dan mulai saat
itulah mereka saling bertemu dan akhirnya berteman erat. Suatu hari Ali datang
ke rumahnya, ada ibunda Amir bernama Rosidah yang dengan pesan tersirat menolak
pertemanan Ali dengan Amir dengan bukti mereka tidak bertemu saat pertandingan
bola dan pulang sekolah. Ali pun suka bercerita tentang pengalamannya ke Pak
Toha, guru Agama dia.
Karena Jaim melaporkan pertemanan Ali
dengan orang kaya, Ali mulai tidak disukai keluarga tirinya. Mereka ingin bukti
kuat jika tidak, Ali tidak dianggap lagi sebagai anggota keluarga karena dia
juga difitnah pembuat masalah, namun, Pak Toha menolongnya agar tidak ada
kekeliruan. Mulai saat itu Ali dibenci keluarganya. Ali pun tak tinggal diam,
dia mencari pekerjaan sebagai penyebar koran untuk kemandirian.
Siang itu, Rosidah dicopet di Mall.
Pencopet itu pergi ke jalan raya menaiki motor. Suasana menjadi heboh dan saat
itulah Ali bertindak. Ia sengaja menabrakan sepedanya ke pencopet itu dan
akhirnya terjadi benturan keras yang melukai kedua belah pihak. Si pencopet itu
tertangkap dan Ali mengalami luka serius sampai dibawah ke rumah sakit.
Suasana haru terjadi di rumah sakit.
Rosidah meminta maaf pada Ali yang sudah menolongnya bahwa ia salah selama ini
kepada Ali. Untuk itu, sebagai tanda terimakasih, Ali pun diadopsi di keluarga Amir& Jaim akan
ditinggal sendiri di keluarga sangat sederhana itu.
2.
a)
Judul :
Mengukir Masa Depan.
b)
Nama Pengarang : Nidhoen Sriyanto.
c)
Jumlah Halaman :
78 Halaman.
d)
Penerbit :
Balai Pustaka.
e)
Tokoh
·
Protagonis :
-Pak Nodan. (Ayah Wasiadi, si pekerja
keras&pendirian kuat)
-Woro. (Wanita yang menjadi teladan)
-Wasisadi. (tokoh utama
dengan Keteguhan hati & seperti ayahnya)
·
Antagonis :
-Bedul. (Pengangguran yang
tidak tahu usaha&tujuan)
·
Tritagonis :
-Paman Braja. (Suri tauladan Wasisadi)
-Pak Purhadi. (Guru Wasisadi yang suka bercanda)
-Yeti. (Teman Wasisadi yang
periang)
-Pak Bima. (Pembimbing kerja nyata yang tegas)
-Amir. (Teman Wasiasdi yang gemar
menolong)
-Pak Karjo. (Korban gempa yang kesulitan)
-Nano. (Teman Woro yang
menjengkelkan)
f)
Latar
·
Tempat :
-Halaman Wiro. -Desa
Citratani.
-Rumah Pak
Nodan. -Rumah Pak Karjo.
-SMP Margajaya.
·
Waktu :
-Sepulang gotong royong -Setelah gempa. - waktu Lulus
-Malam hari. -Terik hari. -7 tahun ke-
-Dari pagi. -Sesudah waktu
istirahat. mudian.
·
Suasana :
-Menegangkan. -Penuh
pikiran.
-Penuh Canda. -Kegembiraan.
-Rasa
perjuangan.
g)
Alur :
Maju, Karena cerita tentang perjalanan hidup.
h)
Tema : Mengejar impian.
i)
Sudut Pandang Pengarang :
Pengarang berperan sebagai tokoh utama.
j)
Amanat/pesan :
-Kerja adalah kehidupan yang sebenarnya.
`` -Orang sukses adalah orang yang bermanfaat,
bukan statusnya.
-pernyataan menilai pekerja di kantor adalah priyayi
adalah warisan yang kurang
menguntungkan karena banyak dari mereka gagal bersaing disebabkan takdir
kreatifitas orang tidak cocok dengan bidang tertentu.
-Jurusan pelarian memberi dampak buruk di masa depan,
jadi dari sekarang harus dipikir matang-matang.
-Menabung pangkal kesuksesan
k)
Tokoh yang
·
Disukai :-Wasisadi,
karena ia sangat tekun mengukir masa depan sukses.
-Pak Nodan, karena ia sangat sabar dalam bekerja
sedikit demi sedikit dan bermanfaat bagi orang lain.
·
Tidak disukai :-Bedul,
karena ia pengangguran yang tidak mau usaha.
l)
Jika jadi tokoh
·
Disukai :-Wasisadi : Saya pasti jadi orang sukses
karena ia sang at
gigih, tekun, dan pendirian kuat.
-Pak Nodan : Saya pasti jadi orang yang
bermanfaat.
·
Tidak disukai :-Bedul :Saya pasti menyesal salah
memilih jurusan ka-
rena ia jadi pengangguran karena itu.
m)
Sinopsis :
Datang dari sudut berbeda, Nano mengkritik Woro agar
bekerja lebih giat lagi kelak masa depan yang dapat menentukan nasib.Woro juga
menasihatinya balik bahwa itu semua haril usaha.Selanjutnya, Woro melihat Bedul
yang setelah berjudi. Woro menasehatinya agar mencari pekerjaan daripada
menganggur, tetapi Bedul sedang menunggu lowongan kerja perkantoran. Itu karena
warisan penilaian priyayi yang menyesatkan bahwa diri sendirilah yang
bertanggung jawab atas kelangsungan masa depan.
Pak
Nodan orang yang sangat sederhana mulai menabung untuk membuat rumah sendiri
dan keluarga mandiri. Ia dan istrinya menabung sedikit demi sedikit untuk
membuatnya sendiri dan hasilnya memuaskan dan saat itu Wasisadi hadir. Paman
Braja memotivasikan Wasisadi dari kecil bahwa jurusan pelarian adalah buruk dan
pekerja kantor jika tidak sesuai bakat akan lebih buruk juga, namun, Wasisadi
ingin menjadi tukang karena bisa bermanfaat.Orang sukses adalah orang yang
bermanfaat bagi pengertian dia.
Rasa
khawatir menyelimuti Wasisadi saat hari kelulusan SMP. Wasisadi dan Yeti
diisukan tidak lolos, namun semua itu
hanya candaan Pak Purhadi. Pak Purhadi dan Wasisadi saling berbincang pasal
pilihan selanjutnya. Pilihan pelarian adalah hal terburuk dalam hidup.
Kreativitaslah yang bisa menolong. Sekolah dengan jurusan bakat tertentu adalah
yang terbaik jika bakat dari awal cocok dengan jurusan itu. Wasisadi menjadi
tukang karena ia sudah menggeluti bidang mebel yaitu bidang bakatnya dan ia
ingin melanjutkan pengembangan bakatnya ke perguruan sesuai bakatnya.
EBTA
dalam perguruan tinggi Wasisadi yaitu kerja nyata sebagai jurusan mebel.Kerja
ini dilakukan disebuah desa Citratani pascagempa yang dibantu oleh peserta
kerja nyata perguruan tinggi itu. Kerja ini dengan membantu korban korban gempa
dan membuat pembangunan kembali. Kerja Nyata ini mengesankan Wasisadi bahwaia
merasa cocok di jurusan ini dengan bukti ia kerja dengan sukses dan lulus
dengan baik.
Usaha kecil kecilan dilakukan
Wasisadi seperti ayahnya dulu. Makin lama makin, usaha itu sukses karena
bermanfaat. Wasisadi tidak merasa gengsi dengan pekerja kantor.Ia hanya
mengukir masa depan yang sukses dan matang. Di pekerjaannya itu, ia tidak
mencari pekerjaan, namun ia menciptakan pekerjaan dan orang lain lah yang
mencarinya. Itu arti kesuksesan sebenarnya.
3.
a)
Judul :
Hujan Kepagian.
b)
Nama Pengarang :
Nugroho Notosusanto.
c)
Jumlah Halaman :
67 Halaman.
d)
Penerbit :
Balai Pustaka.
e)
Tokoh
·
Protagonis :
- Jono. (Pahlawan&tokoh
utama yang perjuangannya melawan menjajah)
-Jon dan Con. (Si kembar yang berani melawan penjajah)
·
Antagonis :
-Jayeng Bledeg. (Pemberontak yang berpihak ke penjajah)
·
Tritagonis :
-Dewi Durgandini. (Perawan yang turut berjuang)
-Pak Godek. (Pemimpin medan tempur yang tangguh)
-Dik. (Tentara yang tidak pernah
serius)
-Mbok Simin. (Wanita tua yang
kehidupannya terancam penjajah dan memiliki bayi)
-Tatik. (Adik
Jono yang masih kecil)
-Titi. (Juru
masak yang suka menggoda Dik)
f)
Latar
·
Tempat :
-Bukit Kuwuk -Markas
-Pemakaman -Rumah Mbok Simin
- Front
·
Waktu :
-Mentari pagi -Di waktu dewasa
-Gelap gulita -Dulu kala
-3 bulan
kemudian.
·
Suasana : -Menegangkan.
-Kesengsaraan
-Mengharukan
g)
Alur :
Gabungan, karena dari awal sampai akhir ada 3 kali klimaks
h)
Tema :
Perjuangan.
i)
Sudut Pandang Pengarang :
Pengarang adalah tokoh utama dan serba tahu.
j)
Amanat / pesan :
-Perjuangan tidak akan mengkhianati hasil.
-Rela berkorban adalah pahlawan yang
sesungguhnya.
-Utamakan kepentingan bersama.
k)
Tokoh yang
·
Disukai :-Jono,karena
ia rela maju bertempur demi kemerdekaan.
·
Tidak disukai :-Jayeng
Bledeg, karena ia memberontak demi kepentingan diri sendiri
l)
Jika jadi tokoh
·
Disukai :-Jono :Saya pasti sangat berjasa
menjadi pahlawan.
·
Tidak disukai :-Jayeng
Bledeg :Saya tidak ingin
meruntuhkan/menjajah tanah
kelahiran sendiri.
m) Sinopsis :
Senyuman Warga di pemakaman Jonoyang 5 tahun lalu,
perjuangannya sangat besar di daerah
itu. Di masa mudanya, ia terus merasakan bombardir yang sesungguhnya
sesungguhnya. Sampai adik Jono alias Tatik menunggu waktu untuk sekolah. Hari
nya dipenuhi rasa takut karena Bukit Kuwuk itu dipenuhi penjajah.
Di waktu mudanya, ia sudah seperti tentara seperti
penerimaan anggota baru. Kehidupan di posko tentara itu sangatlah keras agar
sikap layaknya tentara. Dik adalah tentara yang konyol dan suka menggoda Titi.
Di medan pertempuran,Dik tewas dan Titi rupanya dihamili sebelumnya.
Jon dan Con adalah anak kembar.
Ia sama-sama memimpin pertempuran melawan remaja. Mereka pun terkadang
berbicara seperti adik kakak yang seperti bertengkar namun, akrab. Mereka
berdua berbeda posko pertempuran, namun Jon terbunuh. Con menangkap pembunuhnya
dan balas dendam lebih dari itu. Ibunda mereka sangat sedih mendalam atas fakta
ini karena seharusnya Jon dan Con harus bersama selamanya.
Dewi Durgaini adalah seorang perempuan yang turut
ikut di medan pertempuran, tapi wanita itu belum menikah dan ia tinggal di
kehidupan tentara. Karena itu, ia sering diperkosa. Malam hari ia menghilang,
ia pergi ke ibunya bahwa ia sudah tidak suci lagi namun kata ia perjuangannya
suci.Jadi ia rela berjuang walaupun kesuciannya hilang demi kepentingan
bersama.
Mbok Simin tinggal di
dekat markas musuh dan saat itu baru melahirkan,namun kehidupannya saat itu terancam.
Jono pun secara gerilya menolong dan melindungi Mbok Simin yang baru melahirkan
di masa tua. Mbok Simin dipindahkan ke tempat aman.
Jayeng bledek tertangkap
beserta anak buahnya. Kini saatnya eksekusi
terpidana. Sekumpulan warga menyaksikannya, namun istri jayeng ingin menyerang, tapi gagal dan eksekusi dilanjutkan.
Jono merasa lelah sekali atas perjuangannya selama ini di sekitar bukit Kuwuk
dan ia dikenal salah satu pahlawan disana.
4.
a)
Judul :
Keluarga Pecinta Lingkungan.
b)
Nama Pengarang : Drs. Suharno PH.
c)
Jumlah Halaman :
74 Halaman.
d)
Penerbit :
Balai Pustaka.
e)
Tokoh
·
Protagonis :
-Utomo. (Tokoh utama yang
pintar & peduli lingkungan)
-Ningrum. (Adik Utomo yang selalu ingin tahu
& belajar)
·
Antagonis :
-Tidak Ada.
·
Tritagonis :
-Pak Budi (Ayah mereka yang
peduli lingkungan)
-Eni (Suka Mengejek &
sikap labil)
-Nyoman (Gemar belajar dari lingkungan
luar sekolah)
-Marina (Ceroboh & tidak peduli
kesehatan)
-Pak Agus (Paman yang dermawan & suka
memberi ilmu)
f)
Latar
·
Tempat :
-Halaman rumah -Kompleks -Jakarta
-Pekarangan -Sekolah -Museum
-Rumah -Pinggir Jalan -TMII
·
Waktu :
-Pagi ini -Hari anak nasional
-Masa liburan. -Minggu -Awal
Maret
-Sore hari. -Setiap Hari
·
Suasana :
-Sejuk. -Ramai
-Penuh Canda. -Kegembiraan.
-Damai.
g)
Alur :
Maju, karena cerita diawali orientasi dan ujung cerita adalah puncak cerita.
h)
Tema :
Kepedulian.
i)
Sudut Pandang Pengarang : Pengarang sebagai
pengamat dan diluar cerita.
j)
Amanat/pesan :
-Sebagian besar amanatnya yaitu peduli lingkungan
-Bukan hanya lingkungan sekitar yang perlu dijaga,
Lingkungan sosial budaya dan lingkungan sejarah turut
dilestarikan.
-Belajar itu bukan di sekolah saja
k)
Tokoh yang
·
Disukai :-Utomo,
karena ia selagi pintar, juga peduli lingkungan.
-Ningrum,
karena ia selalu bertanya bertujuan mencari ilmu.
·
Tidak disukai :
Tidak ada.
l)
Jika jadi tokoh
·
Disukai :-Utomo : Saya pasti pintar dalam
segala bidang tentang aspek lingkungan sekeliling & sosial
budaya.
·
Tidak disukai :
Tidak ada.
m)
Sinopsis :
Utomo dan Ningrum adalah kakak beradik yang sangat
mencintai lingkungan dengan bukti menyapu halaman setiap pagi dan membuat rumah
sesuai persyaratan rumah sehat. Mereka saling berbincang persoalan lingkungan
bersih. Rumah bagi mereka yang dijuluki rumah sehat yaitu ventilasi yang cukup
dan jendela penerangan
Pak Budi di pekarangan rumahnya itu sedang berkebun.
Dari sini ilmu yang didapat anak mereka & temannya tidak bisa didapatkan
dari sekolah seperti cara pengolahan kebun. Pak Budi pun dengan senang hati
mengajar anak-anaknya seperti cara benar dalam pengolahan perkebunan sayuran
dan teknik kuantital seperti jarak dan luas wilayah.
Di desa itu, diadakan gerakan menanam bunga & hari
sejuta pohon untuk penghargaan Adipura. Bunga-bunga saat bermekaran memperindah
desa dan pohon-pohon yang rindang menyejukkan udara sehingga suasana damai
karena di pohon terdapat sarang burung yang selalu berkicau. Bahkan pada hari
anak nasional, sekolah Utomo mengadakan kelas terbersih, namun kalah karena
kecerobohan kurang peduli lingkungan. Kecerobohan itu terjadi karena Marina
sakit gigi yang bisa juga disebabkan lingkungan tidak bersih.
Liburan mereka diisi dengan pergi ke Jakarta. Paman
Agus menyambutnya di rumahnya di kompleks. Diawali dengan naik bus kota
keliling lingkungan Jakarta, Museum Satria Mandala,dan TMII bertujuan sengaja
untuk membimbing mereka untuk melestarikan juga lingkungan sosial budaya dan
lingkungan sejarah. Setelah itu mereka pulang dengan kereta dan belajar lagi
melalui pengalaman sepanjang lingkungan perjalanan kereta. Di kereta, mereka
memperbincangkan tentang setiap lingkungan yang dilewati dan orang tuanya
sangat bangga karena keluarga ia pencinta lingkungan.
5.
a)
Judul :
Di Bawah Lindungan Ka’bah.
b)
Nama Pengarang :
Hamka.
c)
Jumlah Halaman :
80 Halaman.
d)
Penerbit :
Bulan Bintang.
e)
Tokoh
·
Protagonis :
-Hamid. (Tokoh utama
laki-laki yang berakhlak terpuji)
-Zaenab. (Tokoh utama perempuan yang
sholeha)
-Saleh. (Teman Hamid yang penuh
perhatian)
·
Antagonis :
Tidak ada.
·
Tritagonis :
-H. Jafar. (Orang tua yang
sangat berbagi kasih)
-Asiah. (Ibunda Hamid)
-Rosna. (Istri Saleh yang dekat dengan
Zaenab)
f)
Latar
·
Tempat :
-Padang. -Sekolah.
-Medan. -Daerah Padang Panjang.
-Rumah. -Mekkah.
·
Waktu :
-Kemudian hari .
-Siang hari. -Tidak lama kemudian.
-Beberapa hari.
·
Suasana : -Mengharukan. -Rindu.
-Kegembiraan. -Pilu.
-Gelisah. -Menyedihkan.
g)
Alur :
Maju, karena ini seperti perjalanan hidup dari awal bertemu sam-
pai perpisahan atau puncak cerita.
h)
Tema :
Percintaan.
i)
Sudut Pandang Pengarang : Pengarang
merangkap menjadi tokoh utama.
j)
Amanat / pesan :
-Hargai&cintai orang tua yang sudah merawat kita sampai besar.
-Tidak boleh memaksa kehendak.
-Takdir adalah dari tuhan.
-Banyaklah bersyukur.
-Kematian adalah salah satu perjalanan hidup.
-Teladan yang baik hikmahnya akan berbuah
manis.
k)
Tokoh yang
·
Disukai :
-Hamid, karena ia berperilakunya sangat terpuji dan ketabahan- nya
·
Tidak disukai :
Tidak ada.
l)
Jika jadi tokoh
·
Disukai :
-Hamid : Saya pasti sangat
dicintai semua orang karena mempunyai teladan yang baik.
·
Tidak disukai : Tidak
ada.
m) Sinopsis :
Di awali dari seorang anak yatim atau hidup tanpa ayah
dan sangat miskin bernama Hamid. Hidupnya selalu serba kekurangan ,namun Hamid
sudah diajarkan cara sikap dan perilaku yang baik sejak dini yang pantas
dijadikan teladan. Karena itulah, H. Jafar yang dermawan merasa iba sehingga
Hamid dan ibundanya bernama Asiah diangkat menjadi keluarga. H. Jafar mempunyai
putri satu satunya bernama Zaenab. Hamid dengannya sederajat sehingga ia
sekolah bersama sama sampai dewasa.
Waktu pun semakin lama, Hamid dan Zaenab mulai muncul
ada saling suka diantara kedua pihak saat masa masa sekolah sampai waktu
kelulusan sekolah. Waktu itu tak terasa dan Hamid pun ingin melanjutkan
pendidikannya di Padang tepatnya di daerah Panjang. Semenjak kepergian itu, H.
Jafar meninggal dunia. Hamid sangat merintih dalam kesedihan karena beliau
berjasa dalam hidupnya.
Setelah menerima kenyataan, Hamid berjuang dengan
bertekad pergi dan beribadah di kota suci Mekkah. Hamid menulis surat untuk
Zaenab bahwa ia ada di Mekkah tanpa pamit. Zaenab pun menerimanya dengan sakit
hati sampai ia menjadi sering sakit karena sendirian. Kerinduan terjadi antara
mereka dan membuat suasana gelisah. Di Mekkah, Hamid bertemu Saleh yang
sama-sama kenal dengan Zaenab bahwa ia menginformasikan Zaenab sedang sakit.
Informasi ini diberi tahu oleh istrinya bernama Rosna.
Surat demi suart disampaikan dan ini membuat Zaenab
agak mendingan. Hati Zaenab menjadi kegembiraan karena Hamid bertekad pula
untuk kembali ke daerah asalnya, namun Saleh mendapat surat pemberitahuan bahwa
Zaenab meninggal dunia karena penyakitnya. Ia meninggal di daerah asalnya yaitu
Padang. Saleh membungkam berita ini namun, Hamid mengetahuinya. Hati Hamid pun
tersayat karena ia ditinggal sendirian tanpa gadis yang dicintainya. Hamid pun
tetap melanjutkan ibadah sucinya dan menerima dengan tabah. Takdir tuhan berkeputusan
bahwa Hamid disana juga tempat terakhirnya di dunia.
#Karena sastra-sastra diatas termasuk buku lama, sehingga tidak ada cover bukunya di google dan saya pun tidak sempat memfoto cover buku karena buku itu buku perpustakaan